|
ain't got time to bleed.
|
||||||
|
||||||
| Time CapsuleProfileAmigoMisc.Lost | ||||||
|
Bienvenue
Layout: Everything I ask for Disclaimers and whatever here. |
When the Moon Goes Down
King Cross, Peron 9 3/4, pertengahan tahun 1985. Siang menjelang sore. "Mulai tahun ajaran depan, aku tidak ke Hogwarts lagi." gumam sesosok bujang tanggung pelan, menarik koper besar yang sudah mulai termakan usia, setengah berharap sistem pendengaran dua orang yang berdiri di sampingnya tidak berhasil menangkap getaran suara bariton miliknya. Mereka tahu atau tidak sama saja sebenarnya, tidak akan ada yang ingat, kan? Sayangnya, mereka dengar. "What? Kau serius, Zavala?" "Ulangi lagi, Artois?" Dua pertanyaan retorikal terucap sudah, mau tak mau menuntut jawaban yang benar dan jelas. Menghela nafas pelan, si bujang tanggung bertitel 'Zavala Artois' itu menengok lambat ke arah wanita pirang yang berkacak pinggang disebelahnya. Samar, indra pengelihatan Zavala dapat menangkap tatapan mata bujang tanggung pirang yang berdiri tak jauh dari situpun memandang dengan tatapan seakan Zavala memiliki dua kepala, empat tangan dan tujuh kaki, menunggu jawaban. Helaan nafas entah keberapa kali pun terlepas dari bibir tipis anak Italia itu, sebelum seulas senyum tipis terbentuk disana. "Begitulah." balas si bujang tanggung setengah hati, gesturnya secara tidak langsung menyatakan bahwa dia tidak ingin menjawab. "Ja, see ya, Dodo, Devindra," lanjutnya, berbalik, lalu mengangkat satu tangan kurus sawo matang, melambai singkat, lalu mulai melangkah. Namun, pemandangan yang tertangkap oleh bulir chestnut Zavala membuat langkah yang hampir diambilnya itu terhenti, membuat sang bujang tanggung terpaku di tempat, menahan keinginan untuk mengumpat sekeras-kerasnya di peron yang sudah mulai sepi itu. Brengsek. Satu kata yang terus bergema di kepala anak ketiga keturunan Artois itu. Brengsek. Dua sosok yang terlalu dikenalnya sedang berdiri berhadapan, berpegangan tangan, bertatapan. Sosok yang seharusnya cukup menjadi tuan putri dan penjaganya yang terpercaya, bukannya tuan putri dan pangerannya seperti yang sedang dipamerkan tepat di depan pengelihatannya. Seharusnya Zavala yang berdiri disitu, berhadapan dengan kamomilnya, memegang tangannya, bertatapan dengannya. Walau untuk terakhir kalinya sebelum Zavala lenyap seutuhnya dari hidup sang gadis belia, seharusnya, seharusnya Zavala yang berdiri disitu, berbicara dengannya. Mengelus pipinya, Ylva Agatheness. "Hei, tidak jadi pergi kau, eh, Zavala?" teriakan dengan nada geli memecah dunia yang seakan berubah menjadi film bisu hitam-putih dihadapan Zavala. Lengan kekar tipikal seorang chaser kemudian bertengger di bahunya, sementara sang pemilik lengan memasang cengiran super lebar di sebelahnya. Cengiran itu lenyap ketika melihat pemandangan yang membuat sang anak Italia terdiam statis di tempatnya. "Ah, itu, pacarmu..." gumam Dodo pelan, "...kan?" Saat ini, Zavala merasa mimpi buruk terburuknya sedang terjadi. Tanpa berpikir lagi, langkah panjang sang bujang tanggung melangkah pasti ke arah dua sejoli anak manusia yang berbicara tak jauh darinya, tepat ketika Ylva menyerahkan sesuatu kepada Gilchrist dan melangkah pergi. Mencoba menenangkan diri, yang langsung gagal, Zavala menarik kasar kerah baju juniornya itu, mengeluarkan semua umpatan yang sudah ditahan dan mulai terasa terlalu pahit di mulutnya. Rasanya, Zavala belum pernah semarah ini dalam hidupnya. Bahkan, saat menjadi prefek dan mengurusi junior-junior Ravenclawnya, bujang tanggung itu belum pernah merasa marah sampai sesakit ini. Gilchrist dengan tenang menepis tangan Zavala dari kerahnya dan mulai melangkah pergi, hanya untuk disusul dan didorong kembali oleh senior ber-kromosom XY dihadapannya. Junior itu lalu menyeringai, menempeleng dahi bujang tanggung yang setahun lebih tua darinya itu sambil menggumamkan kata-kata yang hanya bisa didengar oleh Zavala, membuat seniornya itu semakin terprovokasi. Dodo dan Devindra yang sejenak terpaku melangkah menyusul Zavala, berusaha menahan rekan mereka yang sedang dalam status terlalu emosi dan tak berotak. Zavala meronta melepaskan diri, lalu melayangkan tonjokan tepat di pipi Gilchrist. Beberapa detik kemudian, kepalan tangan Gilchrist mendarat sempurna di pipi si anak Italia, momen dimana Zavala terpaku sesaat itu digunakan Dodo dan Devindra untuk menarik Zavala menjauh dari tempat kejadian. Menepis lengan kedua rekannya, Zavala menarik kopernya kasar, berjalan menembus tembok peron. Tangan kurusnya bergerak pelan menyeka darah segar yang mengalir dari sudut bibirnya yang robek, sementara sepercik rasa sabar yang tersisa berusaha hatinya gunakan untuk meredam semua kekesalan yang tersangkut di hatinya, menciptakan ganjalan di pangkal tenggorokannya. Mencampakkan kopernya di depan toilet stasiun, bujang tanggung itu melangkah masuk, berhenti di depan salah satu wastafel dan membuka keran, membiarkan air jernih yag mengalir darisana membasuh kulitnya, meresap membasuh panas di hatinya. Tak berguna. Kepalan tangan yang beberapa saat lalu mendarat di pipi Gilchrist mendarat di kaca yang sudah retak yang tergantung di tembok dekat wastafel, tekanannya menghancurkannya menjadi kepingan kecil, diiringi tetesan darah segar, diikuti tetesan bening, entah air yang sempat membasuh wajah Zavala atau air mata. "Jujur saja, dia tidak suka kau dekat-dekat dengannya, mengerti?" *** Dei Verta, Murano, Venice, Italy, pertengahan musim panas 1985. Tengah malam. "Zavala?" Suara sopran memecah keheningan, membuat Zavala yang sedang berdiri bertumpu pada terali balkon menengokkan leher kurusnya pelan, bulir chestnut Zavala yang sedari tadi memandang kosong ke arah air yang memantulkan kilap lampu yang menyala di sepanjang kanal beralih ke sosok yang sedang berdiri di depan pintu yang mengarah ke balkon, jemari lentiknya bertautan di depan dada, sementara bibir sewarna cherry segarnya mengulaskan senyum manis. Alis sang bujang tanggung terangkat pelan, sementara sistem koordinasi geraknya membuatnya membalikkan tubuhnya, menghadap ke sosok berambut hitam panjang yang masih tersenyum ke arahnya, membuat bibirnya membalas senyum itu perlahan. Senyum itu hilang ketika sepasang tangan orang yang dikenalnya, yang melihat wajahnya saja sudah membuatnya muak setengah mati, merangkul gadis itu mesra. Seringai kemenangan terpasang di wajah si pemilik tangan, sementara sepasang mata unik milik sang gadis menatap sang pemilik tangan dengan tatapan hangat lalu tersenyum manis. ...... Sepasang mata dengan iris sewarna chestnut terbuka dengan tatapan horor, sementara tubuh pemiliknya terlontar ke posisi duduk, tangan kurusnya meremas kaus putihnya tepat diatas tempat dimana jantungnya berada, merasakan organ itu berdetak terlalu cepat sampai-sampai terasa sakit, sementara tangan yang bebas tanpa sadar terselip diantara rambut coklat pendeknya, menariknya. Mimpi buruk. Lelah, tubuh pemuda tinggi kurus itu tergeletak di tempat tidurnya, raganya kembali beristirahat, namun tidak dengan hatinya yang galau. Air mata mengalir pelan dari sudut matanya yang tertutup rapat. *** Charing Cross Road, London. akhir musim panas 1986. Pagi hari. Sepasang kaki kurus berjalan tanpa arah, sneakers putih yang membalut telapaknya terseret di sepanjang jalan akibat pemiliknya yang sama sekali tak tampak berpikir atau benar-benar hidup. Sorot matanya memandang kosong, lurus ke depan, seakan tubuhnya bergerak dalam mode auto-pilot dan jiwanya sudah tidak ada. Tubuh tinggi kurusnya limbung, hasil dari tekanan dari bahu berbagai orang yang berbagi jalan dengannya pagi itu. Dewi Fortuna jelas tidak berpihak pada pemuda yang sudah tampak seperti zombie itu, karena pagi ini, keramaian seakan melawan arus dari tempat yang ingin dia tuju. Pemuda itu menghela nafas ketika akhirnya dia berhadapan dengan pintu yang familiar. Bulir chestnutnya melirik ke atas sebentar, menatap papan nama yang tergantung di atas bangunan reyot yang tampak tak layak pakai itu, lalu tersenyum lemah. Sudah cukup lama, hm? Tangan kurusnya bergerak, membuka pintu tua itu perlahan, kemudian melangkah masuk. Klining. Leaky Cauldron. "Kenapa aku kembali kesini, eh?" bergumam pada dirinya sendiri, pemuda kurus itu melangkah ke arah konter yang disesaki banyak orang. Mengantri gilirannya dengan sabar, pemuda itu menggunakan waktunya untuk melihat ke sekelilingnya. Tersenyum lemah ketika melihat bocah-bocah calon murid dengan ekspresi antusias berkeliaran, sementara sosok-sosok orang dewasa dengan wajah cemas berusaha menenangkan bocah-bocah yang menjadi tanggung jawab mereka. Remaja-remaja dengan tampang berkuasa menyeringai jahat, yang dengan sangat baik disamarkan dibalik mug besar butterbeer, sementara mata mereka mengikuti setiap gerak-gerik para calon korban mereka, siap menghabisinya. Beberapa remaja lain tersenyum lebar dengan mata berbinar, menangkupkan kedua tangan di depan dada, tidak sabar ingin mengenal calon adik kelas yang sedang berkeliaran itu. Ah, sudah saat itu lagi, hm? "Ahem, selamat pagi mister, mau pesan apa?" Suara kelewat bersemangat terdengar dari balik konter, memecah pikiran yang dirangkai sel-sel otak pemuda itu. Tersenyum pada sesosok perempuan pendek yang tampaknya pegawai magang, chesnut kembarnya menyusuri menu perlahan. Memutuskan kalau lebih cepat dia memesan akan lebih baik, berhubung di belakangnya antrian sudah tumbuh panjang lagi, pemuda itu cepat-cepat memilih pesanannya. "Hm... Satu fish and chips dan satu butterbeer. Oh, dan satu kamar. Atas nama Zavala Artois." "Baiklah!" sang gadis pendek hilang dari konter dengan kecepatan kilat, "ini pesanan anda! Anda tahu berapa yang hadus dibayar, kan? Have a nice day, Mr. Zavala!" dan kembali dengan kecepatan kilat juga. Meletakkan sejumlah uang dan mengambil pesanannya, pemuda itu melempar senyum sekali lagi pada si pegawai magang yang terasa familiar itu sebelum melangkah ke arah kamar yang sudah dipesannya. Sekali lagi, langkahnya terhenti ketika melihat sepasang anak manusia yang dikenalnya, dan sangat ingin tidak ditemuinya, melangkah masuk ke salah satu kamar. Bujang tanggung itu melangkah masuk ke dalam kamar sewaannya, menutupnya rapat. Tubuhnya merosot di tempat, bertumpu pada pintu tua di belakangnya. PRANG! Tangannya dengan kasar mencampakkan gelas butterbeer yang tadi dipegangnya erat sampai buku-buku jarinya putih, kehilangan suplai darah yang seharusnya mengalir ke sana. Bangkit dari posisinya, kakinya menendang meja kecil di hadapannya, menjatuhkan semua barang-barang yang tergeletak diatasnya. Air terpecik di udara, disusul bulu yang mengisi bantal yang tergeletak diatas tempat tidur. Buku-buku tercampak mengikuti jejak rekannya yang malang, pot bunga terjatuh dengan bunyi yang memekakan telinga. Mengerang pelan, pemuda itu berlutut di tengah ruangan yang kacau balau, sama sekali tak sadar ada dua saksi mata yang sangat dikenalnya berdiri dengan tatapan sayu di depan pintu. Sementara di ruangan yang tak jauh dari tembok sang pemuda meratap, sesosok gadis dengan rambut hitam panjang melakukan hal yang sama. Sepasang mata dengan warna berbeda yang dimilikinya menatap ke tangannya yang dihiasi surai panjang hitam. Disekitar tubuh ringkih dengan kulit pucatnya, helaian rambut yang sama tersebar di seluruh penjuru ruangan. Tetesan air mata mengalir satu persatu melalui pipinya tirus, jatuh ke lantai berdebu yang didudukinya. *** Leaky Cauldron, London. Akhir Agustus 1986. Siang hari. "Mister Zavala, ada telepon untukmu!" Mengangkat alisnya dengan tatapan bertanya ke arah pegawai magang kelewat ceria yang melambaikan gagang telepon ke arahnya, gadis pendek itu mengangkat bahu, menyodorkan telepon itu ke arahnya. Bangkit dari tempat duduknya, Zavala melangkah ke konter, meraih gagang telepon yang disodoran padanya, menggumamkan 'terima kasih' pelan lalu menempelkannya di kuping. "Halo?" "Zavala! Aga... Agathe... Aaaah, apapun nama gadis itu! Pacarmu itu pokoknya! Dia kanker! Sekarang dia ada di rumah sakit..." Matanya Zavala membesar perlahan mendengar setiap kata yang diucapkan dari orang yang ada di sisi seberang telepon. Ylva sakit. Ylva-nya. Kamomilnya. Tanpa pikir panjang, bujang tanggung itu berlari secepat mungkin, meninggalkan gagang telepon hitam yang dipegangnya terjuntai di konter. Memaksa kakinya membawanya berlari lebih cepat, sneakers putih kusamnya meninggalkan jejak tak kasat mata di tempat yang dilewatinya. Nafasnya memburu, matanya mencari bangunan persegi dengan cat putih pucat yang terkenal dengan sebutan rumah sakit itu. *** Salah satu rumah sakit di London. Seorang gadis dengan topi rajutan putih menutupi kepalanya menghela nafas pelan, memandang kosong ke arah pemandangan di luar jendela kamar rumah sakitnya. Mengigit bibirnya menahan sakit, gadis itu dapat merasakan tatapan khawatir sahabat dan penjaganya yang duduk di sebelahnya. Menolehkan leher pucatnya pelan ke arah sang pemuda, gadis belia itu tersenyum manis, memberikan tatapan yang seolah mengatakan 'aku baik-baik saja'. Pemuda itu membalas senyumnya, kemudian mengelus pipi cucu Hawa itu pelan. Ketukan pelan di pintu kamar membuat keduanya menoleh. Kepala seorang perawat muncul dari balik pintu pucat, menghela nafas dengan tatapan yang menyiratkan rasa kasihan, mulutnya berujar, "Sudah waktunya, Ms. Agatheness." *** Zavala terengah, memaksakan kakinya yang sepertinya sudah sampai pada batasnya berlari lebih cepat menaiki tangga rumah sakit. Sesampainya di lantai yang tepat, bujang tanggung itu berlari menyusuri lorong remang-remang rumah sakit, warna putih pucat itu seolah mengejeknya. Menelan ludah, cucu Adam itu berbelok, lalu terpaku. Gilchrist berdiri tak jauh dari hadapannya, tatapannya galau. Mengabaikannya, Zavala melangkah maju, berpapasan dengan juniornya itu, lalu melewatinya. Sebuah tangan menggengam pergelangan tangannya, dengan sukses menghentikan langkah gontainya. Cucu Adam itu menghela nafas pelan, meletakkan kalung yang identik dengan yang tergantung di leher Zavala di telapak tangannya. "Maaf aku berbohong." Zavala menatap balik bujang tanggung di sebelahnya dengan tatapan tidak mengerti. "Ylva sebenarnya sangat sayang padamu." Menggenggam erat kalung di tangannya, Zavala mendekatkan kepalan tangannya ke mulutnya, merasakan rantai kalung yang dingin menyentuh pipinya. Kelebatan-kelebatan memori yang dilaluinya bersama sang kamomil terlintas di depan matanya. Bagaimana Zavala mengungkapkan semua perasaannya pada mata bulan purnama saat mereka berdansa dan Ylva mengatakan iya. Bagaimana kata maaf terlontar bersamaan dari bibir keduanya. Bagaimana air mata mengalir dari mata Ylva saat boneka beruang hitamnya diambil oleh Zavala. Bagaimana awal mula mereka bertemu, di malam bulan purnama yang merupakan takdir mereka. Berlari ke arah ruang operasi, pemuda Italia itu menggenggam kalung di tangannnya lebih erat, meninggalkan bekas di telapak tangan kurusnya. Berhenti tepat di pintu ruang operasi, tangan yang cukup dikenalnya menepuk bahunya pelan, memberikan tatapan simpatik padanya. Tersuruk di pelukan sahabatnya, Zavala mengerang pelan, buliran bening jatuh perlahan dari sudut matanya. "Maaf, kami tidak bisa menyelamatkannya." Pintu ruang operasi terbuka, mengeluarkan meja operasi dengan Ylva terbaring diatasnya. Tak bernafas. Berlutut di sebelah tubuh yang sudah tak bergerak itu, Zavala meraih tangan kecil Ylva yang berangsur kehilangan panas tubuhnya, meletakkan kepalanya di samping wajah tirus pucat sang gadis. Bibir tipisnya menggumamkan kata-kata yang sudah tidak bisa mencapai sang gadis, sementara bulir chestnutnya meneteskan lebih banyak air mata. "Selamat jalan." *** Don’t look back and leave Don’t find me again and live (on) Because I have no regrets from loving you, take only the good memories I can bear it in some way I can stand in some way You should be happy if you are like this *** Curcolan yang bikin. Makasih banyak buat Tuhan-Yang-Maha-Sempurna yang memberikan saya akal budi, otak dan talenta untuk menulis walaupun tulisan saya masih abal-abal begini. Makasih buat Big Bang karena udah bikin lagu Haru Haru yang MV-nya memberikan saya inspirasi untuk menulis kisah cinta klasik ga jelas ini. Makasih juga buat semua PM yang charanya gue pinjem buat dijadiin kameo. Makasih buat Depah, yang mengijinkan chara saya memiliki charanya, walau hanya sebentar. Enjoy! :3 Label: fiction, forum, haru haru, when the moon goes down, Ylva Agatheness, Zavala Artois On Rabu, 02 Juni 2010 at 02:52 |
MR. UNDERWORLD Dika | Rakkun™ | going on 16 | INDONESIAN. ordinary immature kid with extraordinary life. rebellious and defiant. open hearted and genuinely friendly. playful, spirited, limitless imagination. creative, experimental, self-aware. making something out of nothing. ambitious but stubborn. energetic but impatient. shrewd but overbearing. mischievous, naughty, and intense. traveler, comfortable anywhere, rarely feel homesick. cool, melancholy, detached. you guess (: |
"Mine."
Facebook | Twitter | deviantART Amigo?
Regina Pacis Bogor @ Net // Nguping Jakarte // Raditya DICK-a // Jurnal Eksternal // The Blog of Ryokubita // Kal // parMITH // Askichan // Nau // Aricchan // Kuso // Ren // Haruchan // Choppu // kak Dey // Mishu-aniki // Nyacchan // Thia // nBLa // Sorata // Babay // tante sigi // njel // talitha pedersen // Sapu Broomberg // uca // elisa // Dhilla // Rara // Wina // aurore marvil // riska // ndhez // mijuh // sari "I... Just run!"
|
|
Files
Archive
Februari 2009 Maret 2009 Mei 2009 Juni 2009 Juli 2009 Agustus 2009 September 2009 Oktober 2009 November 2009 Desember 2009 April 2010 Mei 2010 Juni 2010 Juli 2010 Agustus 2010 September 2010 Oktober 2010 November 2010 Folders - Give 'em CLICKS!
![]() ![]() ![]() ![]() |
|
| Layout by tuesdaynight / Image from xo |