|
ain't got time to bleed.
|
||||||
|
||||||
| Time CapsuleProfileAmigoMisc.Lost | ||||||
|
Bienvenue
Layout: Everything I ask for Disclaimers and whatever here. |
Satu minggu.
... ... Wow. Satu minggu. Sama sekali ga kerasa, dan tahu-tahu hari itu bakal dateng lagi. Hari yang tanggalnya beda 10 hari sama harinya Roronoa Zoro itu. Rasa-rasanya baru kemarin gue duduk di GI dengan meja disatuin, makan-makan bareng mereka yang bisa disebut teman baik itu. Rasanya baru seminggu yang lalu ketawa bareng orang lain yang juga teman baik itu di Mr. Baso ITC. Tiba-tiba udah mau hari itu lagi. Tanpa Ian. Tanpa Nia. Tanpa Bebe. Bareng teman baik baru lagi. ... Wow. Label: ga penting, random, seminggu On Sabtu, 13 November 2010 at 21:45 Kamu.
Lelah. Rindu. Benci. Galau. Sedih.Aku rindu kamu. Aku rindu mereka. Aku rindu membayangkanmu tersenyum dan tertawa. Aku rindu ikut senyum dan tertawa dalam imajiku tentangmu. Aku rindu melihat caramu menulis. Aku rindu candaanmu, yang tidak pernah luput membuatku tertawa. Aku rindu kata-kata bijakmu, yang tidak pernah luput membuatku terenyuh. Kamu, dan dia yang mirip kamu. Kamu, dan caramu memanggilku. Kamu, dan candaan menyebalkanmu. Kamu, dan caramu membuatku terkesima dengan kata-katamu. ...kapan kembali? Label: ga penting, kamu, racauan, random, rindu On Senin, 11 Oktober 2010 at 04:42 Wind Beneath My Wings (Is You)
.. . Akihiko benci ini. Menarik dan menghela nafas untuk menenangkan dirinya, pria berparas Asia itu menutup manik hazelnya perlahan. Potongan-potongan kejadian yang terasa sangat baru di otaknya terlintas, membuat manik itu sontak terbuka lebar. Takut. Jemari tangan kanannya yang sejak tadi tergantung di sisi tubuhnya mengepal perlahan, bergetar. Akihiko ingin berteriak, ingin memukul, ingin melempar, menghancurkan apapun yang ada di depannya. Apapun. Kepalan tangan itu akhirnya mendarat di tembok putih pucat, seiring dengan setitik air mata yang jatuh melewati pipinya. Akihiko benci ini. Menghempaskan tubuh di salah satu kursi plastik yang berjejer di lorong rumah sakit yang temaram, Akihiko mengatur nafasnya yang memburu. Kepalanya menengadah nelangsa, menatap langit-langit putih pucat yang menaunginya. Akihiko benci rumah sakit. Kenapa harus putih pucat? Warna itu seakan meledeknya, mengingatkannya pada wajah pucat berlumuran darah yang masih segar di ingatannya. Tubuh kecil yang dingin, tatapan bulir obsidian yang kosong. Menjedukkan belakang kepalanya ke tembok di belakangnya, tangan kurus pemuda itu bergerak menutupi matanya, menyembunyikan air mata yang muncul di ujung matanya. Akihiko benci ini. "Wind Beneath My Wings (Is You)" Sherry Kiersten York, Akihiko Aoi © Puppet Masternya. Shiramine Ciel © Puppet Mistressnya. Wind Beneath My Wings © Bette Midler. Ryokubita World © Admin-admin Ryokubita. *** "Did you ever know that you're my hero, and everything I would like to be?" "Akihiko, ini Edward York, ayah barumu," berita yang di deklarasikan Mika Amasawa—yang sudah berganti nama menjadi Mika York sekarang—dengan senyum lebar dan mata berbinar membuat Akihiko sontak merasa tertampar. Keras. "Dan ini Sherry, adik barumu." Akihiko tersenyum hambar, menunduk sopan. Sherry tersenyum lebar, memeluk Akihiko. "Semoga kita jadi kakak-adik yang akur ya, Aki-nii?" Cukup. Mendorong tubuh kecil Sherry sampai jatuh, Akihiko meraih tas selempang yang merosot di dekat kakinya, lalu berlari cepat kamarnya. Tangannya membuka kasar pintu kamarnya. Pintu kayu dengan cat hitam itu kemudian tertutup dengan kasar, diikuti bunyi 'klik' yang menandakan pintu itu di kunci. *** Aku pergi. Jangan cari aku. -Aki. *** "Aki?" seorang pemuda yang terbilang fashionable tertegun ketika melihat sosok familiar di beranda rumahnya, "Kau pulang juga akhirnya! Kemana saja?" "Ciel," Akihiko mengangguk pelan, lalu tersenyum hambar, "Aku... Sekolah." "Ho? Begitu? Eh, sudah lihat adik barumu? Manis lho!" Ciel nyengir lebar dengan mata berbinar, "Dan baik juga. Lucu seka... Eh! Aki? Kau mau kemana?!" "Aku kabur dari rumah!" Teriakan Akihiko membuat bola mata hazel Ciel membesar. Mengurut pelipisnya dengan ibu jari dan jari telunjuknya, Ciel bersender di bingkai pintu rumahnya, memandang punggung kurus Akihiko yang melangkah menjauh. Seharusnya Ciel tahu sedari awal bahwa Aki tidak akan suka keluarga barunya. Seharusnya Ciel menyadari bahwa membicarakan Nyan—atau Sherry, adik tiri Aki itu—hanya akan membuat pria labil itu semakin down. Seharusnya Ciel mengerti bahwa Aki datang untuk menyampaikan uneg-unegnya pada Ciel. "Sugar!" Alunan mezzo-sopran yang familiar di telinganya membuat Ciel sontak tersadar dari lamunannya. Gadis pemusik itu berlari-lari ke arah rumahnya, sedikit terengah-engah. Di tangan kecilnya terdapat bundelan kain yang cukup besar dan agak tebal. Alis Ciel terangkat pelan. "Nyan," menyapa dan tersenyum hangat saat Sherry sudah sampai di hadapannya, Ciel menelengkan kepalanya ke samping, "Ada apa, malam-malam begini?" "Kamu lihat Aki-nii?" tanya gadis itu setelah nafasnya kembali normal, tangan kecilnya memeluk lebih erat kain di tangannya, "Aki-nii pergi dari rumah. Tidak bawa apa-apa. Aku takut Aki-nii kenapa-kenapa. Dia kesini, kah?" "Tidak, tidak kesini," jawab Ciel pelan, menggelengkan kepalanya. Bohong. Tapi tidak sepenuhnya, kan? Lagipula Aki hanya mampir sebentar tadi. "Oke, terima kasih, Sugar!" Manik hazel Ciel menatap punggung kecil Sherry sampai hilang di kegelapan malam. Senyum kecil terukir di wajahnya yang tampan. Ciel tidak ingin ikut campur dalam masalah keluarga tetangganya itu. Bukannya tidak peduli. Tapi Ciel yakin Aki dan Sugar memiliki akhir yang bahagia. Kalau Sugar, pasti bisa. Menggelengkan kepala pelan sambil tertawa kecil, Ciel melangkah masuk kembali ke dalam rumahnya. Aki memang dingin dan labil. Juga keras kepala. Namun kalau masalah keras kepala, Sherry tidak akan kalah. *** You were content to let me shine, that's your way. You always walked a step behind. *** Mengumpat pelan sambil menggosok-gosokan kedua tangannya, Aki melangkah masuk ke sebuah taman yang tampak sepi. Akihiko ingat tempat ini. Ujung bibirnya terangkat sedikit ketika sekelebat memori menyenangkan terlintas di otaknya. Masa kecil yang sangat bahagia itu. Otoosan, Okaasan, Aki dan Walls. Bahagia, sampai semuanya hancur karena kematian Otoosan saat ulang tahunnya yang kedua-belas. Menghempaskan diri di salah satu kursi taman, Aki kembali menggosokkan tangannya, berusaha mengusir hawa dingin yang mulai menghisap panas tubuhnya. Musim Semi tahun ini dingin. Menengadah ke langit, Akihiko menghela nafas lagi, sedikit menyesal dengan tindakannya yang gegabah, pergi begitu saja dari rumah tanpa membawa apapun. Hanya berbalut kaos putih tipis, celana jeans dan sneakers putih, tanpa sepeserpun uang dan tanpa tujuan. Tanpa sadar Akihiko melipat kakinya, lalu memeluknya erat di dekat dadanya. Manik hazelnya terpejam pelan, dahinya bertumpu pada kedua lututnya. Kalau tidak punya tujuan lagi, lebih baik Aki mati kedinginan di taman itu. Mungkin bisa bertemu Otoosan lagi, bukannya ayah palsu berdarah Amerika yang membentuk keluarga bahagia di rumahnya. Suara langkah kaki membuat Akihiko sadar dari lamunannya. Mengangkat kepalanya, pemuda Asia itu menemukan sepasang kaki kecil berdiri tak jauh darinya. Indra pendengarannya menangkap nafas yang terengah-engah. Menyusuri sosok tubuh di depannya, bulir hazelnya membesar ketika menyadari siapa orang yang ada di depannya. Salah satu dari dua orang yang tidak ingin Aki lihat. "A..." "Mau apa kau?" potong Akihiko dingin, menatap tajam ke mata gadis kecil yang adalah adik barunya itu. Pemuda itu sedikit terkejut melihat semua emosi yang terekspresikan oleh manik obsidian itu. Ada rasa khawatir, lega dan sesuatu yang lembut di mata itu. Sherry—walaupun Akihiko bersikap dingin padanya—tersenyum lebar, lalu melangkah mendekati Akihiko. "Dingin, nii-san?" tanyanya sambil menyodorkan bundelan kain di tangannya. *** It must have been cold there in my shadow, to never have sunlight on your face. *** "Aki-nii! Sugar mana ya?" "Hm? Mungkin dia mau menginap, tadi dia pesan kamar, kan?" "Aku mau bilang dadah dulu kalau begitu!" "Kiki, tunggu!" Tubuh Akihiko terasa kaku saat bunyi klakson memenuhi jalanan yang terbilang sepi pagi itu. Dunia Akihiko seakan runtuh ketika suara decitan rem bergema di telinganya, diikuti bunyi ban mobil yang bergesekan dengan aspal jalanan. Manik hazelnya membesar, tanpa sadar mengikuti detik demi detik gerakan mobil yang dengan kecepatan penuh menabrak tubuh kecil sang adik. Merasakan kakinya tak sanggup lagi menopang berat tubuhnya, tubuh tinggi pemuda Asia itu merosot jatuh ke atas trotoar, matanya tidak lepas dari tubuh kecil berlumuran darah yang tergeletak di tengah jalan di hadapannya. Untuk kedua kalinya dalam hidupnya, Akihiko merasakan perasaan itu. Rasanya kehilangan orang yang dia sayangi. *** It might have appeared to go unnoticed, but I've got it all here in my heart. I want you to know I know the truth, of course I know it. I would be nothing without you. *** "Aku tahu... Rasanya kehilangan orang yang sangat kita sayangi." Akihiko melirik pelan pada gadis kecil yang berdiri di depannya, lalu kembali mengarahkan tatapannya ke tanah. Entah kenapa, setelah menerima jaket yang disodorkan Sherry, tubuh Akihiko langsung kaku, terdiam di tempatnya. Harusnya Akihiko benci pada gadis itu, karena gadis manis menghancurkan bayangan keluarga bahagia yang sudah dibangun dalam imajinya. Harusnya Akihiko menolak kebaikannya, seperti saat Akihiko menolak dipeluk oleh dua tangan kurus yang hangat itu. Harusnya, alih-alih menerima jaket itu dan memakainya, Akihiko lari sejauh-jauhnya dari gadis itu. "Sakit, ya?" Akihiko sontak menengadah ketika mendengar suara Sherry yang bergetar. Manik hazelnya bergerak memperhatikan gerak-gerik Sherry yang masih tersenyum, walaupun bibirnya sedikit bergetar, entah kedinginan atau menahan emosi yang ada dalam tubuh ringkih itu. Saat menangkap bulir obsidian gadis Amerika itu dalam-dalam, Akihiko merasa seperti sedang bercermin, melihat sorot sendu Sherry. Ada kesedihan disana. Telapak tangan mungil Sherry mendarat di dada Akihiko, tepat di atas jantungnya. "Disini, sakit ya? Nii-san?" Entah apa yang mendorongnya untuk berbuat demikian, Akihiko menarik tubuh ringkih Sherry ke dalam pelukannya. Akihiko menyenderkan dahinya di atas jantung Sherry, mendengarkan satu demi satu detak jantung gadis itu. Aneh, memang, tetapi Akihiko merasa tenang setelah mendengar detakan jantung itu. Rasanya familiar. Menghirup dalam-dalam aroma Sherry, tanpa sadar air mata Akihiko jatuh satu persatu, membasahi baju Sherry. Familiar. Rasa memiliki keluarga yang menyayanginya. *** You, you are the wind beneath my wings. Fly, fly away. You let me fly so high. *** "Aoi-san?" Tersentak dari lamunannya, Akihiko menengok ke asal suara, menemukan seorang perawat berdiri tak jauh dari ruang rawat Sherry. Tersenyum tipis, Akihiko mengangguk, diam-diam menyilangkan jari telunjuk dan tengahnya, mengharapkan berita baik. Sang perawat balas tersenyum, berkata sesuatu, lalu melangkah pergi menyusuri lorong rumah sakit yang temaram. Ujung bibir pemuda Asia itu terangkat, seiring dengan munculnya ekspresi lega di mata hazelnya. "Kondisi Kiki sudah stabil." Akihiko mengulang kata-kata sang perawat, lalu tertawa lepas. Tangan kurusnya menyeka air mata yang mengalir deras melewati pipinya. Setelah air matanya berhenti mengalir, Akihiko menarik nafas dalam-dalam, menghembuskannya, lalu membuka pintu ruang rawat Sherry. Segera menghampiri pinggir tempat tidur adiknya, Akihiko terduduk lega di kursi yang tersedia di samping tempat tidur itu, merasakan air matanya kembali muncul di ujung matanya. Meraih jemari kecil Sherry, Akihiko menggenggamnya perlahan, merasakan denyut nadi gadis Amerika itu. Denyut yang sama yang selalu menenangkannya. "Aki! Nyan!" Derapan langkah berlari diikuti teriakan panik dan suara pintu yang menjeblak terbuka membuat Akihiko menoleh pelan, menatap sosok fashionable berparas Asia yang sedang berusaha mengatur nafasnya di bingkai pintu. Membuka kacamata hitam yang menutupi mata hazelnya, Ciel memandang berkeliling, mendapati sosok Akihiko yang terduduk di sebelah sosok Sherry yang tampak tertidur dengan ekspresi damai. Akihiko bisa melihat sorot lega bercampur bahagia terbentuk di wajah sahabatnya itu. "Kiki sudah stabil, Ciel." ujar Akihiko, tersenyum pada Ciel. yang langsung merosot di depan pintu karena perasaan lega yang melandanya. Melangkah mendekati sahabatnya itu, Akihiko menyodorkan kedua tangannya, menarik tubuh yang lebih kecil darinya itu ke sebuah pelukan singkat, menopangnya. "Kiki akan pulang." tambahnya lirih. *** Fly, fly high against the sky, so high I almost touch the sky. *** "Aki-nii! Sugar!" dua pemuda berparas Asia berlari panik ke arah sesosok gadis berdarah Amerika yang melambai-lambai pada mereka, berjalan mundur sambil tertawa-tawa. Manik hazel Akihiko dan Ciel membesar ketika Sherry berteriak kecil, terantuk batu yang cukup besar yang tak dilihatnya karena terlalu senang melonjak-lonjak seperti monyet-monyetan karet. Kedua pemuda itu lantas berlari dengan kecepatan tinggi, menjulurkan tangan mereka, menarik tangan Sherry yang menggantung di udara. Setelah Sherry berdiri di posisi yang aman, Akihiko dan Ciel menghela nafas lega, lalu berpandangan. Sebuah senyum terulas di wajah tampan mereka sebelum keduanya tertawa lepas. "Setelah kejadian itu, aku tidak menyangka kita akan tetap seperti ini," ujar Ciel sambil menggelengkan kepala. Jemarinya bergerak membetulkan kacamata berlensa biru tua yang bertengger di hidungnya. Akihiko hanya mampu mengamini dengan tawanya, mengangkat telapak tangannya ke arah Ciel, mengajak ber-high five. "Tapi, kalau Kiki, siapa sih yang bisa menyangka dia akan seperti apa?" jawab Akihiko setelah tawanya reda, nyengir lebar sambil menoleh pada sosok sang adik yang sedang memandangi kelopak bunga sakura yang berjatuhan. Tangan kecil Sherry menggapai-gapai ke udara, berusaha menangkap helaian merah jambu yang melayang terbawa angin. "Aki-nii, Sugar, ini!" Sherry melangkah mendekat ke tempat kedua pemuda Asia itu berdiri, lalu membuka kedua telapak tangannya yang tadi mengatup. "Katanya, kalau kita berhasil menangkap kelopak sakura, keinginan kita bisa terkabul," ujarnya ceria, "Aku dapat tiga, satu untukku, satu untuk Aki-nii, satu untuk Sugar." lanjutnya, masih dengan nada riang yang sama. "Make a wish!" Akihiko tersenyum ketika melihat Sherry yang menutup mata dalam-dalam. Dahi sang gadis berkerut sedikit, meminta baik-baik permintaannya. Berpandangan sejenak dengan Ciel, Akihiko menghela nafas, ikut memejamkan mata bersama Sherry. Ciel mengikuti tak lama setelah sahabatnya menutup mata. 'Semoga kami bertiga bisa tetap seperti ini. Selamanya.' *** Thank you. Thank God for you, the wind beneath my wings. FIN On Selasa, 14 September 2010 at 22:14 Hey dad look at me Think back and talk to me Did I grow up according to plan? And do you think I'm wasting my time doing things I wanna do? But it hurts when you disapprove all along And now I try hard to make it I just want to make you proud I'm never gonna be good enough for you I can't pretend that I'm alright And you can't change me * 'cause we lost it all Nothing lasts forever I'm sorry I can't be perfect Now it's just too late and We can't go back I'm sorry I can't be perfect I try not to think About the pain I feel inside Did you know you used to be my hero? All the days you spent with me Now seem so far away And it feels like you don't care anymore And now I try hard to make it I just want to make you proud I'm never gonna be good enough for you I can't stand another fight And nothing's alright back to * Nothing's gonna change the things that you said Nothing's gonna make this right again Please don't turn your back I can't believe it's hard Just to talk to you But you don't understand back to * On Selasa, 17 Agustus 2010 at 06:27 dan momen indah itu membekas di hati, memupuk rindu.
Gue pengen balik ke masa anak-anak.Kayaknya pas kecil bokap-nyokap gue baik banget. Gue salah selalu dimaafin. Gue nangis selalu dihibur. Salah ngomong sedikit dimaklumin. Mungkin emang bener, masa-masa pas jadi anak kecil itu masa paling indah di hidup orang, kali ya? Sekarang, gue ngerasa gue menghancurkan bayangan keluarga bahagia mereka. Iri banget gue sama kakak gue, kayak model anak kebanggaan orang tua. Di sekolah dikenal anak pinter. Kuliah di universitas ternama di negara. Tinggalnya udah jauh di Bandung tetep aja lebih diperhatiin dari gue yang ada di depan mata. Emang sih gue anak payah, kerjaannya bikin masalah mulu di sekolah. Nilai selalu jelek. Gak bisa apa-apa. Sampah lah pokoknya. Apa perlu gue mati baru mereka inget sama gue? Apa perlu gue mati biar mereka bahagia? at 06:17 tanya hati
Hidup itu, walaupun ada perbedaan, harus saling menghormati.Statement basi yang udah ga dijunjung sama negara yang ngakunya penduduknya ramah, baik hati dan sopan. Bukannya mau ngejelek-jelekin Indonesia, malu dong gue orang Indonesia, lahir disini, besar disini, makan-minum yang ada di negara ini, terus malah ngata-ngatain? Gue cuma mau membahas fakta. Sekarang lagi masa puasa. Gue udah berusaha menghargai yang puasa, sangat sangat berusaha, dan kalau gue bikin godaan buat mereka, itu suatu ketidaksengajaan. Gue berani sumpah gue gak sengaja. Sehaus-hausnya gue di angkot yang panasnya minta ampun, emang terbersit rasa pengen banget minum, tapi gak ada niat untuk minum di tempat umum. Gue selalu berusaha terus inget untuk ngehargain yang puasa, biar ga ngasih cobaan yang lebih berat sama mereka yang lagi menunaikan ibadah. Tapi... Gue capek liat cerita bagaimana agama gue yang minoritas di negara ini diinjek-injek. Bikin tempat ibadah gak boleh, beribadah gak boleh. Heran gue. Tanah buat bangun tempat ibadah agama gue disegel, IMB gak keluar, segala macem. Sepintas tadi pagi gue baca status FB junior gue, isinya cerita kalo ada tempat ibadah agama gue yang gak jadi dibangun di suatu kawasan perumahan di Bogor disegel. Dan gue tiba-tiba keinget cerita guru bahasa Inggris gue kalo di tempat tinggalnya yang lama itu bikin rumah ibadah itu susah banget. Untuk beribadah aja susah. Belum lagi kehebohan di berita dan twitter dulu beberapa hari sebelum puasa. Itu kah yang namanya kebebasan beragama? Itu kah praktek dari pasal 29 UUD 45, bahwa "Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu."? Jujur sebagai orang Indonesia gue kecewa. Apa itu yang disebut saling menghormati? On Jumat, 13 Agustus 2010 at 23:39 Well I didn't mean for this to go as far as it did And I didn't mean to get so close and share what we did And I didn't mean to fall in love, but I did A Lonely September | Plain White T's Label: ga penting, lirik, random at 04:47 |
MR. UNDERWORLD Dika | Rakkun™ | going on 16 | INDONESIAN. ordinary immature kid with extraordinary life. rebellious and defiant. open hearted and genuinely friendly. playful, spirited, limitless imagination. creative, experimental, self-aware. making something out of nothing. ambitious but stubborn. energetic but impatient. shrewd but overbearing. mischievous, naughty, and intense. traveler, comfortable anywhere, rarely feel homesick. cool, melancholy, detached. you guess (: |
"Mine."
Facebook | Twitter | deviantART Amigo?
Regina Pacis Bogor @ Net // Nguping Jakarte // Raditya DICK-a // Jurnal Eksternal // The Blog of Ryokubita // Kal // parMITH // Askichan // Nau // Aricchan // Kuso // Ren // Haruchan // Choppu // kak Dey // Mishu-aniki // Nyacchan // Thia // nBLa // Sorata // Babay // tante sigi // njel // talitha pedersen // Sapu Broomberg // uca // elisa // Dhilla // Rara // Wina // aurore marvil // riska // ndhez // mijuh // sari "I... Just run!"
|
|
Files
Satu minggu. Archive
Februari 2009 Maret 2009 Mei 2009 Juni 2009 Juli 2009 Agustus 2009 September 2009 Oktober 2009 November 2009 Desember 2009 April 2010 Mei 2010 Juni 2010 Juli 2010 Agustus 2010 September 2010 Oktober 2010 November 2010 Folders - Give 'em CLICKS!
![]() ![]() ![]() ![]() |
|
| Layout by tuesdaynight / Image from xo |